saya marah sekali dengan ayah saya, terkadang saya tidak habis fikir dengan jalan pikiran beliau. apakah saya belum cukup dewasa di matanya?yaaa mungkin itulah salah satu faktor utama yang menyebabkan neliau terlau possessive terhadap hidup saya. saya tau beliau sangat menyayangi saya,namun apakah dengan cara yang terlalu posessive itu dapat membuat saya nyaman?
saya juga terkadang sangat sedih atas tindakan-tidakan atau pun keputusan ayah saya yang selalu bertolak belakang dengan apa yang saya harap kan. bukannya saya tidak ikhlas melakukannya , namun saya selalu berusaha untuk mengikuti keinginan ayah saya meskipun bagi saya begitu sulit, tetap saya ikuti. tapi kenapa giliran saya, ayah saya tidak bisa mengikutinya. membuat saya sedikit punya kebahagiaan karena apa yang saya harapkan beliau ikuti. tapi sepertinya akan sangat lama sekali saya menunggu hal tersebut terjadi. saya sudah letih untuk marah dengan ayah saya, saya sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya agar keinginan saya dapat di dengarkan dan di terima. saya sudah coba untuk bicara namun hasilnya beliau tetap ngotot dengan keputusannya, , , , , saya marah, tapi saya juga terluka dengan amarah saya. saya pun sakit karena amarah saya sendiri. ini pertama kalinya saya marah terhadap beliau, dan rasanya malah sangat menyakitkan saya. saya marah tapi saya juga merasa sudah berdosa telah marah kepada orang tua saya sendiri. saya berusaha untuk menerima semuanya tapi kenapa juga terasa sakit di u
lu hati saya? seperti ada sesuatu yang masih mengganjal di dalam hati saya ini. ayah, saya telah berdosa karena amarah saya. ayah hati saya tetap sakit ketika harus merelakan semua ini. ayah, kini saya merasa kaku berbicara dengan mu. semua sudah tak seperti dulu, saya berusaha memendam amarah. tapi maafkan saya ayah karena amarah ini terlalu besar kepadamu, maaf karena saya tak mampu memendam lebih lama lagi rasa kecewa ini. maafkan saya ayah!!! kini saya hanya dapat meminta bantuan kepada sang waktu untuk membantu menghilangkan amarah dan rasa kecewa saya. . . . . .



0 comments:
Posting Komentar